WASHINGTONG, (PRLM).- Salah satu simbol paling menyolok pada musim liburan akhir tahun adalah pohon Natal. Tetapi, tahun ini Gubernur Rhode Island, Lincoln Chafee, mengubah nama Christmas tree atau pohon Natal menjadi holiday tree atau “pohon liburan.”

Ia mengatakan, “Keadaan berubah. Itu adalah sebuah kenyataan. Dunia makin mengecil. Orang-orang berpindah-pindah. Agama lebih diterima dalam masyarakat kita, dan ini evolusi yang terjadi.”

Ribuan orang di Amerika menelefon kantor Gubernur Chafee dan mengecam penggantian nama tersebut. Salah satu anggota parlemen dari Rhode Island bahkan memutuskan untuk menggelar upacara menyalakan “pohon Natal” di State House pada saat yang sama dengan penyalaan “pohon liburan” Gubernur Chafee.

Janice Crouse, Jurubicara Concerned Women for America, organisasi perempuan Kristen di Amerika, mengatakan, “Berkaitan dengan Natal, orang-orang yang berbicara mengenai penyertaan dan kebhinekaan, dan semua kata-kata klise kelompok kiri, merekalah yang pertama kali ingin menghapuskan perayaan Natal.”

Hampir 80 persen penduduk Amerika menganggap diri mereka sebagai beragama Kristen, dan merayakan Natal untuk menandai kelahiran Yesus.

Menurut Erika Seamon, dosen ilmu agama Universitas Georgetown di Washington DC, persoalan pohon Natal ini menggarisbawahi perdebatan mengenai pemisahan gereja dan negara dalam masyarakat Amerika.

Ia mengatakan, “Nilai penting dari perdebatan ini adalah bahwa Natal atau agama tidak dapat dihilangkan dari masyarakat Amerika. Perdebatan ini terkait hubungan pohon dan bahasa Natal yang terkait dengan properti dan dukungan dari pemerintah.”

Natal adalah hari libur resmi pemerintah, berarti pemerintah meliburkan sebagian besar pegawainya, begitu juga dengan perusahaan swasta.

Pengadilan Amerika mengatur bahwa pohon Natal merupakan simbol sekuler atau non-agama selama musim liburan akhir tahun.(voa/A-147)

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/170522