Model IKRAR adalah model pembelajaran yang pertama kali yang dikembangkan oleh Sudiarta yang dihasilkan dari berbagai penelitian tentang pemecahan masalah open-ended. Model IKRAR diilhami oleh metode pemecahan masalah Polya, pemecahan masalah open-ended Shimada, problem solving Schoenfeld serta strategi metakognitif. Adapun sintaks dasar dari model IKRAR adalah inisiasi, konstruksi-rekonstruksi, aplikasi, dan refleksi. Kelebihan dari model IKRAR adalah didukung oleh tindakan didaktis yang berupa pertanyaan-pertanyaan efektif (Sudiarta, 2009).

Model IKRAR memiliki 4 karakteristik (Sudiarta, 2009). Pertama, inisiasi merupakan proses mental untuk mendorong terjadinya aksi-aksi mental berkaitan tugas-tugas pemecahan masalah. Dalam tahap inissiasi, guru memfasilitasi siswa dalam membangun inisiatif original untuk memecahkan masalah, cara membangunnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan efektif. Jika proses inisiasi yang diharapkan ini tidak terjadi dengan baik, yakni ditandai oleh ketidakmampuan siswa dalam menggali, membedakan dan mengaitkan konsep-konsep yang penting dan kurang penting, maka guru perlu melakukan intervensi. Intervensi dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, akan tetapi harus dilandasi oleh konsep didaktis dan pedagogis yang tepat.

Kedua, konstruksi-rekonstruksi merupakan proses untuk membangun pengetahuan komputer secara procedural dan konseptual dalam diri peserta didik berupa kemampuan untuk dapat membedakan konsep dengan yang bukan konsep. Belajar komputer pada inti nya harus membuka ruang seluas-luasnya bagi pelajar untuk terlibat aktif dalam proses mengkonstruksi dan merekonstruksi objek-objek mental dalam computer.

Ketiga, aplikasi merupakan proses penerapan atau pemodelan ide-ide computer dalam dunia nyata. Proses ini dapat melibatkan siswa baik secara mental maupun fisik. Proses aplikasi ini sangat penting untuk menjadikan pemahaman siswa lebih bermakna (learning with understanding).

Keempat, refleksi adalah proses mental untuk melihat kembali keseluruhan proses sebelumnya secara utuh. Proses mental ini merupakan ruang evaluasi diri intuk membuka kesadaran mendalam bagaimana dan mengapa konsep, prinsip, prosedur computer berkaitan satu sama lain dan dapat dijadikan untuk membangun konsep yang baru. Proses refleksi ini membuka peluang bagi siswa untuk melakukan aktivitas (inventive activity) yaitu suatu kemempuan untuk berkarya dan berdaya cipta secara orisinal.

Pembelajaran dengan menggunakan model IKRAR menempatkan siswa sebagai subjek dalam pembelajaran. Dalam model IKRAR, guru tidak lagi berfungsi sebagi pemberi ilmu, tetapi lebih sebagi fasilitator. Guru menyipkan berbagai perangkat pembelajaran dan mendorong siswa untuk dapat belajar lebih terfokus dan optimal, mengarahkan diskusi siswa melalui pertanyaan-pertanyaan efektif yang merangsang siswa untuk berpikir.

Dalam model IKRAR, siswa tidak menerima informasi secara pasif, tetapi siswa secara aktiff mengkonstruksi pengetahuan. Model IKRAR dirancang untuk memberikan kesempatan bagi siswa melakukan aktivitas atau pemecahan masalah dalam kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Pada saat melakukan aktivitas atau pemecahan masalah dalam kelompok-kelompok kecil secara kooperatif, siswa saling berinteraksi, saling membantu, dan saling melengkapi. Hal ini akan memungkinkan siswa untuk dapat memahami sendiri suatu konsep atau prinsip komputer dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.