Ini agak filosofis, memang, tetapi sebenarnya justru di sini letak kunci
segalanya. Dengan mengenali diri sendiri, kita dapat mengetahui kelemahan
fisik tubuh kita, lalu dapat memutuskan apa yang baik dan
boleh dilakukan bagi tubuh, dan apa yang tidak. Orang yang tanpa
disadari telah keenakan menyantap makanan yang asin secara berlebihan,
misalnya, lama-kelamaan merasakan tubuhnya berubah, seperti
cepat merasa pusing, berkurang keseimbangan tubuhnya, dan sering
merasakan aneka gejala tidak enak badan. Setelah memeriksakan badan
ke dokter, baru diketahui tubuhnya mulai mengidap ”penyakit” tekanan
darah tinggi. Kalau sejak itu ia berusaha sungguh-sungguh untuk
mengurangi makanan asin dan berlemak, sambil melakukan olahraga
ringan secara teratur, maka ”penyakit”-nya tidak mudah kumat, dan ia
tidak perlu sering pergi ke dokter lagi. Bila Anda mempunyai keluhan
seperti itu, seyogianyalah mencontoh orang yang mengenal kelemahan
dirinya sendiri itu. Begitu juga orang yang mudah marah dan sukar
mengendalikan diri karena tidak mengenal kekurangan dirinya sendiri.
Setelah mengenal kelemahannya, dan mau memperbaiki kebiasaannya
yang merugikan, lama-lama ia mahir menjaga agar tidak mudah terpancing
emosinya. Itu berkat ia berusaha mengenal dirinya sendiri
juga.
1